THERMAL SPRAY COATING

January 23, 2009 by ivandwisaputra

Thermal spraying is a group of processes wherein a feedstock material is head and propeeled as individual particles or droplets onto a surface. The thermasl spray gun generates the necessary heat by combustible gases or an electric art. As the materials are haeted, they are change to a plstic or molten sate and are confined and accelerated by a compressed gas straem to the substrate. 3

It is one of the most versatile hard facing techniques available for the application of coating materials used to protect component from abrasive wear, adhesive wear, erosive wear or surface fatigue and corrosion (such as that caused by oxidation or seawater). The coating may also increase heat resistance, when a material with a low thermal conductivity is deposited onto a base material.  A variety of enginnering problems have  been  solved using thermal spraying application of this coating  technique considered. Metals, carbides and cerments are  the most widely used coating materials, however the spraying of polymers has been researched also.  Within the thermal spray technique are various types of processes, one of which is the High Velocity Oxy-Fuel (HVOF) process used in the current reseach. The HVOF processes in one of  the most popular thermal spraying technologies and has been widely adopted by many industries due to it is flexibility and the superior quality of coating produced. The HVOF processe is a relatively new thermal spray process, offering coating with higher bond strenght and hardness together with lower porosity, compared to it is other thermal spray counterpart. Industrial use of the process is growing according to especially in the power generation industry, oil and gas, seel mill and aeronautical industry

Eye Safety

January 7, 2009 by ivandwisaputra

Salah satu safety yang harus digunakan adalah kacamata “Eye Safety”. biasanya yang akan digunakan haruslah sesuai standart. mo lebih jelas…

download aja di :
http://www.4shared.com/file/79378557/da7febe3/Eye_Safety.html

Kadar Karbon Dioksida di Bumi Sudah Kelewat Batas

November 25, 2008 by ivandwisaputra

LONDON – Planet bumi makin bergeliat gusar akibat kelalaian manusia menjaga alam. g4xenwigi5Sekelompok ilmuwan internasional dari Goddard Institute for Space Studies melaporkan bahwa level karbon dioksida (CO2) di bumi sudah mencapai tingkat berbahaya.

Penelitian terkait kadar karbon dioksida ini dipimpin oleh Dr James Hansen dengan memaparkan fakta berdasarkan catatan paleoclimate atau catatan dari paleoklimatologi, ilmu yang mempelajari perubahan iklim. Dari catatan tersebut terungkap bahwa tingkat karbon dioksida yang terkandung di udara sudah mencapai 385 ppm dan diprediksikan akan terus meningkat sebanyak 2 ppm tiap tahunnya.

Level setinggi itu sudah dinilai membahayakan karena bisa mengakibatkan perubahan iklim yang membahayakan warga bumi, seperti kekurangan bahan makanan, intensitas badai yang meningkat, langkanya batu karang di lautan, serta langkanya pegunungan gletser yang selama ini menjadi persediaan air bagi jutaan orang.

“Sekali mereka semua menghilang, maka akan menghilang pula persediaan air bagi banyak orang yang bergantung hidup pada sungai-sungai yang bermuara di pegunungan Himalaya, Andes, dan Rocky. Bisa dipastikan akan banyak yang menderita kekeringan pada musim panas dan gugur,” terang Hansen seperti diberitakan di CNN, Senin (24/11/2008).

Karena sudah terlalu parahnya, Hansen berani mengklaim bahwa tindakan stabilisasi kadar emisi CO2 sudahtak mampu lagi memperbaiki keadaan juga untuk menghindar dari bencana terkait perubahan iklim.

“Umat manusia harus bisa benar-benar menurunkan level gas rumah hijau untuk terhindar dari hal-hak buruk,” tukas Hansen.

Agar benar-benar tercapai langkah pencegahan yang bisa menjauhkan umat manusia dari kehancuran, Hansen menyarankan untuk setahap demi setahap mengurangi penggunaan pembangkit listrik berbahan bakar batubara sebelum tahun 2030, juga menurunkan penggunaan bahan bakar fosil. Selain itu, tindakan reboisasi di lahan landai serta pemakaian pupuk alami, bisa menjadi cara untuk menurunkan kadar CO2 sekitar 50 ppm dalam beberapa dekade.

“Sebaiknya manusia sesegera mungkin melakukan sesuatu untuk menurunkan emisi karbon dioksida dan secepatnya mengembalikan kadar gas tersebut ke level 350 ppm. Jika tidak, saya meragukan lempengan es akan bisa bertahan ditempa banyak tekanan kuat,” terang Hansen sekaligus menutup penjelasan.

Sebagai informasi, hasil penelitian Hansen tentang kenaikan kadar CO2 sudah diterbitkan pada edisi terbaru Open Atmosphere Science Journal dengan judul ‘Target Atmospheric CO2: Where Should Humanity Aim?’.

(srn)